Warta Utama

- business - indonesia - news - news media - politics

Sosok Joao Mota: Mundur Tak Terduga dari Jabatan Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara

– Figur Joao Angelo De Sousa Mota, yang lebih dikenal dengan nama Joao Mota, merupakan seorang penggiat masalah pangan dan memiliki hubungan dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. Dia menjabat sebagai Ketua Badan Pembina DPW Tani Merdeka Indonesia Nusa Tenggara Timur, yaitu organisasi pendukung Partai Gerindra. João memainkan peranan krusial dalam sengketa Timor Timur, dimana dia […]



– Figur Joao Angelo De Sousa Mota, yang lebih dikenal dengan nama Joao Mota, merupakan seorang penggiat masalah pangan dan memiliki hubungan dekat dengan Presiden Prabowo Subianto.

Dia menjabat sebagai Ketua Badan Pembina DPW Tani Merdeka Indonesia Nusa Tenggara Timur, yaitu organisasi pendukung Partai Gerindra.

João memainkan peranan krusial dalam sengketa Timor Timur, dimana dia berdampingan dengan Octavio Soares menyosialisasikan penggabungan Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia.

Arsip Nasional Australia juga menyimpan buku
Bentuk Perjuangan Rakyat Timor Leste untuk Kemerdekaan: Trilogi Plus
yang mengisahkan pertarungan Joao bersama Octavio.

Pada tanggal 10 Februari 2025, Joao diangkat sebagai Direktur Utama PT Yodya Karya (Persero), yang selanjutnya mengganti namanya menjadi PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) sejak awal bulan Mei 2025.

Berbekal pengalaman di berbagai sektor, kepemimpinan João diharapkan mampu memberikan inovasi dalam bidang pertanian dan konsultansi teknik.


Alasan Pengunduran Jao Mota

Pada hari Senin (11 Agustus 2025), Joao Mota mengumumkan mundurnya dari jabatan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara setelah menjalani tugas selama enam bulan.

Pada acara jumpa pers yang ditayangkan oleh Kompas TV, Joao mengucapkan penjelasan dan permohonan maaf kepada rakyat, khususnya para petani, serta kepada Presiden Prabowo Subianto atas ketidakmampuan dirinya dalam memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian negara.

Kami merasa sangat sedih dan minta maaf kepada seluruh rakyat, terutama para petani, kepada bangsa ini, serta kepada Presiden yang telah memberi kepercayaan kepada kami dalam menjalankan tugas ini. Oleh karena itu, ijinkanlah saya menyatakan mundurnya saya dan berharap bisa menyampaikan permintaan maaf,” katanya sambil mencoba menahan air mata.

João menyampaikan bahwa salah satu faktor penyebab mundurnya ia adalah kurangnya dukungan penuh dari para pemangku kepentingan, termasuk tidak tersedianya dana sama sekali sampai saat ini. Ia juga memperhatikan sistem birokrasi di BPI Danantara yang dianggap rumit dan menjadi kendala dalam percepatan program pangan nasional.

“Sikap serius presiden dalam mendukung serta mendorong berbagai usaha untuk menciptakan kemandirian pangan belum seluruhnya didukung oleh pemangku kepentingan maupun para stafnya,” ujarnya.

João menyatakan kekecewaannya terhadap kelambatan dalam proses administratif di Danantara, yang semestinya mendorong percepatan proyek strategis tetapi malah menjadi hambatan. Dalam waktu enam bulan menjabat, dia telah empat kali dimintai untuk menyusun laporan studi kelayakan (FS) oleh Danantara, sementara dana bagi perusahaan masih saja tidak cair sedikitpun.

“Inilah birokrasi-birokrasi yang terus dipertahankan dan diterapkan di Danantara, hingga saat ini kami masih diminta kembali FS yang kemungkinan telah ketiga atau keempat kalinya kami ajukan,” katanya.

Sebagai seorang wirausahawan yang biasa bekerja secara cepat dan strategis, Joao merasa kurang sesuai dengan sistem administratif yang rumit. Ia menyesali pendirian Danantara yang dianggap tidak sejalan dengan komitmen presiden dalam memperkuat kemandirian pangan.

“Kebudayaan ini nyatanya sangat berbeda dari apa yang telah kita jalani selama ini. Oleh karena itu, saya melihat antusiasme serta komitmen Bapak Prabowo dalam merealisasikan hal tersebut begitu luar biasa, namun sayangnya belum didukung sepenuhnya oleh para bawahannya, bahkan Dana masih mengalami keterbatasan akibat proses administratif yang sangat panjang, rumit, saling tumpang tindih, dan tak pernah usai,” katanya.

João mengatakan bahwa pengunduran dirinya merupakan wujud tanggung jawab terhadap gagalnya memberikan sumbangan nyata selama menjabat. Dia berharap tindakan ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak dalam meningkatkan sistem yang sudah ada.


Pengunduran Diri Disebabkan Oleh Berbagai Hal:

João menyampaikan bahwa pengunduran dirinya disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:


Kurangnya Dukungan Stakeholder:

João menyampaikan bahwa belum ada pendukung penuh dari para pemangku kepentingan, termasuk dana yang sampai saat ini masih kosong.


Birokrasi yang Berbelit:

Birokrasi yang berlaku di BPI Danantara dinilai menjadi hambatan dalam mempercepat pelaksanaan program pangan nasional. Joao menjelaskan bahwa sejak menjabat selama enam bulan, dirinya telah empat kali dimintai untuk menyusun laporan kelayakan (feasibility study/FS) oleh Danantara, tetapi dana perusahaan masih belum turun juga.


Ketidaksesuaian Budaya Kerja:

Sebagai seorang wirausaha yang terlatih untuk bekerja cepat dan strategis, Joao merasa kurang sesuai dengan sistem administratif yang rumit dan penuh hambatan.

João turut prihatin terhadap sikap Danantara yang dirasa tidak sesuai dengan semangat Presiden Prabowo dalam mendukung ketahanan pangan. Dia mengakui rasa frustrasinya akibat kelambatan prosedural di Danantara, yang mestinya menjadi penggerak laju proyek penting. João menegaskan bahwa kegagalannya ini merupakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan. Ia memutuskan untuk melepaskan jabatannya sebagai wujud pertanggungjawaban serta merasa malu atas ketidakmampuan dirinya memberi sumbangan nyata.


Tanggapan Rosan Roeslani

Pemimpin Perusahaan Danantara, Rosan Roeslani, menghargai keputusan Joao Mota dalam meninggalkan posisinya.

Rosan menyatakan bahwa proses pergantian pimpinan di PT Agrinas Pangan Nusantara akan berjalan dengan baik, terarah, dan direncanakan agar menjaga kelancaran pelaksanaan strategi penting serta konsistensi visi dan misi perusahaan.

Rosan juga mengatakan bahwa semua aktivitas di Agrinas Pangan Nusantara terus beroperasi sebagaimana mestinya, dan pelayanan kepada mitra maupun para stakeholder akan dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ada.

Sebagai manajer investasi strategis, Danantara Indonesia menunjukkan komitmennya terhadap kejelasan, tanggung jawab, serta pelaksanaan tata kelola perusahaan yang optimal dalam semua unit bisnisnya.


Perubahan PT Agrinas Pangan Nusantara
Reformasi PT Agrinas Pangan Nusantara
Pergeseran status PT Agrinas Pangan Nusantara
Proses peralihan PT Agrinas Pangan Nusantara
Kemajuan atau transformasi PT Agrinas Pangan Nusantara
Ubah wujud PT Agrinas Pangan Nusantara
Tindakan pengembangan PT Agrinas Pangan Nusantara
Rencana penyesuaian struktur PT Agrinas Pangan Nusantara
Inisiatif perubahan pada PT Agrinas Pangan Nusantara
Evolusi dari PT Agrinas Pangan Nusantara

PT Agrinas Pangan Nusantara adalah perusahaan milik negara yang berasal dari pengubahan PT Yodya Karya (Persero), sebuah perusahaan yang dahulunya beroperasi dalam bidang layanan konsultan konstruksi.

Proses perubahan ini diatur melalui surat Menteri BUMN Nomor S-63/MBU/02/2025 yang dikeluarkan pada tanggal 10 Februari 2025.

Melalui perubahan ini, PT Agrinas Pangan Nusantara diharapkan mampu mendukung program strategis nasional dalam sektor pangan dan berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan para petani maupun pertumbuhan ekonomi negara.

Ini adalah daftar lengkap susunan institusi dan badan organisasi Danantara:


1. Dewan Pengawas

  • Erick Thohir
  • Muliaman Hadad
  • Sri Mulyani Indrawati
  • Para Menko dan Mensetneg


2. Dewan Pengarah

  • Joko Widodo
  • Susilo Bambang Yudhoyono


3. Dewan Penasihat

  • Ray Dalio
  • Helman Sitohang
  • Jeffrey Sachs
  • F. Chapman Taylor
  • Thaksin Shinawatra


4. Badan Pemantau dan Pertanggungjawaban

  • Ketua PPATK
  • Ketua KPK
  • Ketua BPK
  • Ketua BPKP
  • Kapolri
  • Jaksa Agung


5. Board of Danantara

  • Kepala Eksekutif Perusahaan (CEO): Rosan Roeslani
  • Kepala Operasional (COO): Dony Oskaria
  • Kepala Investasi (CIO): Pandu Sjahrir


6. Direktur Pelaksana

  • Direktur Hukum: Robertus Bilitea
  • Direktur Eksekutif Risiko dan Keberlanjutan: Lieng-Seng Wee
  • Direktur Keuangan: Arief Budiman
  • Direktur Keuangan Divisi Kas: Ali Setiawan
  • Direktur Eksekutif Hubungan Internasional dan Tata Kelola: Mohamad Al-Arief
  • Direktur Eksekutif Manajemen Pemangku Kepentingan: Rohan Hafas
  • Direktur Eksekutif Auditor Intern: Ahmad Hidayat
  • Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia: Sanjay Bharwani
  • Direktur Eksekutif/Kepala Ekonom: Reza Yamora Siregar
  • Direktur Manajemen Kepala Kantor: Ivy Santoso


7. Komite Manajemen Risiko:

  • John Prasetio


8. Komite Pengelolaan Investasi dan Portofolio:

  • Yup Kim


9. Managing Director:

  • Agus Dwi Handaya


10. Managing Director:

  • Febriany Eddy


11. Direktur Pengelola Risiko:

  • Riko Banardi


12. Holding Investasi

  • Direktur Keuangan: Djamal Attamimi
  • Direktur Utama Hukum: Bono Daru Adji
  • Direktur Investasi: Stefanus Ade Hadiwidjaya


(*/)


Tulisan ini pernah diterbitkan sebelumnya di
Kompas.com


Baca berita
TRIBUN MEDAN
lainnya di
Google News


Juga ikut serta dalam informasi yang lain di
Facebook
,
Instagram
dan
Twitter
dan
WA Channel


Berita viral lainnya di
Tribun Medan